Malam ini suasanya begitu sepi, suasana yang sangat enak untuk ku tumpahkan segala rasa yang ada pada diriku padaMu duhai Tambatan hatiku.
Sebenarnya ada rasa malu yang begitu menggunung di dada, bagaimana bisa diri hamba ini mengaku-ngaku hamba dari DiriMu, apakah diri ini sudah seistiqomah para solihin? Ataukah diri ini sudah sesabar para shobirin ? ataukah diri ini sudah sejujur para sidiqqin? Ataukah diri ini sudah setawadhu para nabi dan rasulMu?
Atau hamba hanya mengaku-ngaku saja bahwa diri ini hambaMu, padahal melakukan ibadah saja masih dipenuhi dengan malas, sedangkan Engkau telah berfirman dalam kitabMu “Demi waktu. Sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh dan saling nasehat menasehati dalam mentaati kebenaran dan saling nasehat-menasehati dalam menetapi kesabaran (Al-Ashr :1-3).
Ataukah hamba hanya mengaku-ngaku saja bahwa diri ini orang yang sabar, padahal baru diberikan ‘setitik’ ujian kesulitan dariMu diri ini sudah gelisah, diri ini sudah mengadu kesana kemari dan lupa mengadu padaMu, atau saat Engkau memberikan ‘setitik’ ujian kesenangan pada hamba seolah Engkau tidak pernah ada, seolah segalanya adalah hasil jerih payah dan usaha hamba, padahal segala sesuatu di dunia ini tidak ada yang mungkin jadi kecuali Engkau telah memfirmankan ‘Kun..’ maka segala usaha yang manusia lakukanpun akan terjadi.
Ataukah hamba hanya mengaku-ngaku saja bahwa diri ini orang yang jujur, padahal Engkaulah yang Maha Tahu setiap kata-kata yang keluar dari bibir ini, padahal ada berjuta ketakutan bila orang lain tahu atau bahkan bila keluarga tahu seperti apa keadaan diri ini, diri yang kemana-mana memakai topeng, topeng yang bila bertemu dengan hamba-hambaMu yang soleh maka topeng soleh yang dipergunakan, topeng yang bila bertemu dengan orang-orang sabar maka topeng kesabaran yang digunakan, topeng yang bila betemu dengan ahli shalat maka topeng ahli shalat yang dipergunakan…….
Ataukah hamba hanya mengaku-ngaku saja bahwa diri ini orang yang tawadhu, padahal hampir tidak ada satu sisi pun yang menandakan ketawadhuan, saat Engkau berikan pada diri ini ‘sedikit’ kelebihan harta lantas kemana berteriak nih aku orang kaya, nih aku orang yang serba punya, namun apakah diri ini sudah sekaya dan setawadhu nabi sulaimanMu as? Atau saat Engkau memberikan ‘sedikit’ kelebihan ilmuMu, diri ini sudah berteriak kesana kemari bahwa ilmuku yang paling hebat, ilmuku yang paling dalam dan akulah yang paling pintar, segalanya tidak akan bisa berjalan tanpa ada aku, namun apakah diri ini sudah sepintar nabi musaMu as?
Duhai Tambatan hatiku, Engkaulah Maha Pembolak balik hati ini, ya Rabb, mungkin orang-orang akan mencibir pada hamba bahwa bagaimana mungkin orang seperti ini ingin jadi hambaMu, bahwa bagaimana mungkin orang yang penuh dosa ini ingin menjadi hambaMu, bagi hamba……….. biarkan semua orang di dunia ini mencibir keinginan hamba untuk menjadi hambaMu, karena yang paling penting bagi hamba adalah Engkau semaikan cintaMu dalam hati hamba, agar hamba dapat mengabdi kepadaMu dengan sepenuh-penuhnya ikhlas, agar hamba dapat mengabdi kepadaMu dengan sepenuh-penuhnya cinta.
Ya Rahman, Ya Rahim
Karuniakan pada diri hamba cintaMu
Cinta hamba-hamba yang senantiasa mencintaiMu
Cinta pada ilmu yang dapat membuat hamba semakin mencintaiMu
Cinta pada amal yang dapat membuat hamba semakin mencintaiMu
Serta jadikan rasa cinta hamba kepadaMu melebihi rasa cinta hamba pada diri dan keluarga hamba Ya Allah……
Ya Rabb….
Jangan Engkau jauhkan hamba dariMu
Jangan Engkau jauhi hamba
Jangan Engkau tinggalkan hamba
Karena tiada tempat untuk hamba memohon meminta dan mengadu selain kepadaMu
Ya Allah
Karuniakan senantiasa cinta yang tiada pernah bertepi
Kasih yang tiada pernah berakhir
Naungan rahmat
Perlindungan, bimbingan serta kasih sayangMu
Pada diri hamba, pada seluruh keluarga hamba, pada guru-guru hamba, pada sahabat-sahabat hamba serta kepada hamba-hambaMu Ya Allah…………
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment